Ditulis oleh Gusti Orrin Prayudi Wardhana untuk Buletin Salamuda
Kasihan Sumanto ! Dia ditolak warga kampung halamannya sendiri setelah dia bebas dari penjara (backsound : kaya main monopoli aja pakai bebas dari penjara segala). Mengapa ? Karena mereka trauma dengan ulah Sumanto. Lho, emangnya Sumanto berulah apa ? Waduh, masa nda ingat lagi ?! Itu lho, dia khan pernah memakan 3 manusia yang telah dibunuhnya terlebih dahulu. Organ-organ tubuh mangsanya pun dijadikannya koleksi di rumahnya. Wuiiih….seram !
Tapi, itulah Sumanto. Kabag Psikologi Polda Jateng, AKBP Drs. Purnomo, menyatakan Sumanto menderita psikopat. Waduh…apaan lagi tuh psikopat ? Psikopat itu suatu keadaan psikis yang mendorong perbuatan anti sosial. Dokter lain mengatakan Sumanto menderita nekrophilia. Yang ini apaan lagi ya ? Gampangnya, nekrophilia itu adalah keadaan di mana seseorang suka memakan mayat. Hiii….
Ternyata Sumanto tidaklah sendiri. Pada tahun 1970-an, Japikkir Sinaga membantai en memakan bagian organ tubuh kekasihnya di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Ada pula Mbah Jiwo di Surabaya, Jawa Timur, yang mencincang tubuh cucunya sendiri lalu handak dimasak rawon. Wuiiih…sekali lagi seram ! Tapi jijik juga ya…masa mayat dimakan seperti tidak ada makanan lain aja.
Masalah makan-memakan mayat ini pun pernah difilmkan Hollywood lewat The Red Dragon. Dalam film ini, Anthony Hopkin berperan sebagai Hannibal Lecter si pemangsa manusia. Apa mungkin ya Sumanto terinspirasi film ini ?
Yang jelas, pasti ada hikmah di balik kasus ini. Kata Albert Einstein : “Tuhan tidak pernah berjudi dengan ciptaan-Nya.” Yeah, itu benar ! Allah SWT pun telah berfirman jauh sebelum Einstein mengatakan itu. Firman-Nya : “….dan tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia…” (QS. Ali Imran : 191). Jangan-jangan Allah SWT bermaksud ‘menjewer’ telinga kita yang selama ini tanpa sadar sering ‘memangsa daging mayat saudaranya sendiri’.
“Lho, kapan kami pernah makan daging mayat saudara sendiri ?!” Sabar dulu, sobat ! Jangan protes dulu ! Kami hanya hendak menjelaskan bahwa Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat : 12).
Nah, sekarang baru sobat semua boleh protes kalo emang benar-benar tidak pernah ‘makan daging mayat saudaranya sendiri’. Coba amati en renungi ayat itu baik-baik ! Kira-kira perbuatan apa yang disebut oleh Allah SWT sebagai ‘makan daging mayat saudaranya sendiri’ itu ?
Yeah, seratus buat kamu ! Perbuatan itu adalah menggunjing alias gosip. Dalam istilah Islamnya disebut ghibah. Ghibah adalah membicarakan aib seseorang yang inabsentia (tidak ada). Bagaimana pernah menggosip atau tidak ?
Gosip : Digosok Makin Siiip
Emang benar, kalo sudah membicarakan orang alias menggosip kadang suka lupa diri walaupun tidak sampai lupa ingatan …he…he… Gatal rasanya lidah ini kalo sehari aja tidak menggosip. Siapa yang digosipin ? Ya siapa aja ! Bisa teman sekelas yang lagi pelit jawaban PR lah, bisa teman main yang tidak sip lah, bisa guru yang terlalu ngiler eeh killer lah, bisa tetangga yang sok gaya lah, bahkan bisa ortu yang tidak faham selera kita-kita lah. Pokoknya, semua bisa digosipin en dijamin tidak akan langka bahan. Soal gosip emang tidak seperti soal beras yang bisa langka.
Apalagi kalo gosip dilakukan berdua atau rame-rame (lha iya lah…masa menggosip sendirian ? Itu sih namanya mengigau). Wuiiih, dijamin pasti rame deh. Cerita yang tadinya satu kalimat bisa jadi sepuluh, seratus, bahkan seribu kalimat. Maklum, lidah khan tak bertulang jadi sangat mudah ‘bermain silat’. Ditambah lagi jika ada teman yang pandai ‘mengompori’. Suasana panas pun menjadi bertambah panas.
Gosip emang seperti sudah mendarah-daging. Saking populernya, TV-TV pun tak mau ketinggalan menayangkannya. Rasanya capek deh ngitung berapa tayangan gosip di TV. Ada Kabar-Kabari, ada Cek & Ricek, ada Silet, ada KISS, ada Kassel, ada Ada Gosip, en banyak lagi yang lainnya (eeeh…kok jadi seperti lagunya Rhoma Irama). Bahkan, ada tayangan acara Insan en Intan yang khusus untuk menggosipin selebritis anak maupun anak selebritis. Duh…duh…duh…kecil-kecil sudah jadi korban gosip. Akhirnya, kebiasaan gosip ini sulit dihilangkan. Karena, seperti kata iklan : ‘sudah tradisi’.
Awalnya sih tayangan-tayangan tersebut mungkin sekedar untuk mengungkap sisi-sisi kehidupan seorang public figure. Biasanya sih para artis. Maklum, mereka khan orbek (orang beken gitu lhoh) yang segala sisi kehidupannya laku untuk dijual. Yah, sebagai bagian dari keinginan memenuhi rasa ingin tahu setiap orang. Tapi, lama-kelamaan kepleset jadi nyeritain yang jelek-jeleknya juga. Masalah perseteruan keuangan hasil kontrak, hubungan asmara, perselingkuhan, menghamili orang, kericuhan keluarga para artis jadi sisi berita yang cukup ditunggu-tunggu kehadirannya. Bahkan, artis kerokan karena masuk angin pun bisa jadi berita hangat. Semua dibeberkan, tentu dengan tambahan ‘bumbu-bumbu’ pemanis cerita. Karena sejak dari bangun tidur sampai mau tidur lagi kita disodori acara-acara gosip maka wajar kalo ngegosip menjadi hal yang biasa en mentradisi. Bisa jadi sobat yang doyan ngegosip ini karena terpengaruh bacaan en tayangan TV ini. Siapa tau khan ? So, hati-hati !
“Ini hanya untuk ngisi waktu aja. Just for fun, tidak serius kok !” Mungkin demikian kilah para gosipers (aktivis gosip maksudnya !). Tapi sobat, jangan anggap sepele masalah ini. Akibatnya bisa fatal lho ! Coba sobat lihat berapa banyak perkawanan yang putus gara-gara gosip ? Apa sobat enak hati ketika ada seorang teman sobat nyeritain kondisi sobat kepada teman yang lain padahal sobat tidak senang kondisi itu diketahui orang apalagi sampai jadi berita utama di sekolah ! Tentu tidak,khan ? Kalo sobat tidak suka, begitu juga orang lain. Jika gosip dibiarkan terus maka akan tumbuh subur rasa saling curiga. Berteman pun terasa hambar en kaku. Karena pertemanan itu diselimuti dengan kecurigaan en kekhawatiran. Sobat khawatir kalo kejelekan atau kelemahan sobat diceritain oleh teman sobat. Masuk akal khan, karena tidak ada jaminan kalo teman sobat itu tidak suka ngegosip. Kalo teman sobat doyan nyeritain kejelekan teman yang lain di hadapan sobat. Itu artinya tidak ada jaminan kalo kejelekan en kelemahan sobat tidak diceritainnya juga ke teman lain. Teman model begini emang susah. Runyam, khan ? Kalo udah begitu bisa timbul kebencian en permusuhan. Biasanya lagi, kalo udah musuhan, segala kejelekan en kelemahan sang rival pasti akan diobral kemana-mana. Akhirnya, permusuhan pun menjadi abadi, layaknya Tom en Jerry yang tidak pernah akur.
Itulah akibat gosip yang dilakukan oleh lidah yang tak bertulang ini. Makanya, jaga tuh lidah ! Jangan sampai menjelekkan orang lain. Lidah itu sangat tajam, tajamnya lebih dari pedang (lho…lho…kok jadi kaya lagu dangdut ?). Camkan papadah urah bahari ini : “Jika pedang lukai tubuh, masih ada harapan sembuh. Jika lidah lukai hati, kemana obat hendak dicari.”
Dilarang, Sobat !
Untuk itulah Islam sebagai ajaran yang sempurna memberikan aturan tentang hal ini. Inilah uniknya Islam. Masalah yang sobat anggap kecil aja ada aturannya, apalagi masalah yang ganal-ganal. Sudah berabad-abad yang lalu Allah SWT memperingatkan soal ini sebagaimana dalam QS. Al Hujurat : 12 di atas. Larangan gosip (baca : ghibah) sangat tegas. So, jangan digawi lah. Kalo masih handak manggawi, bayangkan saat itu sobat sedang ‘memakan’ bangkai teman sobat itu. Hiiih, amit-amit deh.
Biasanya khan ketika sedang mamandirakan urang tentu urang yang dipandirakan kadada di tempat (inabsentia). Makanya, Allah SWT mengibaratkan orang yang tidak hadir (inabsentia) itu sebagai mayat. Karena, dia kada mampu untuk membela dirinya en menolak pembiacaraan tentang aibnya itu. Demikian pula, mayat kada tau kalo dagingnya sedang dimakan, sebagaimana orang yang tidak hadir (inabsentia) tadi juga kada tau kalo dia sedang dipandirakan. Karena itulah, kata Ibnu Katsir dalam kitabnya, Allah SWT menganalogikan ghibah itu dengan memakan daging mayat manusia.
Tapi, ada jua sebagian sobat yang beralasan : ‘faktanya khan emang seperti itu’, atau ‘emang benar kok’, de el el. Begini sobat, justru kalo bujur itulah namanya ghibah. Sedangkan kalo kada bujur itu namanya fitnah. Rasulullah SAW bersabda : “Tahukah kamu apakah ghibah itu ?” Sahabat menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi bersabda : “(yaitu) engkau menyebut saudaramu dengan apa-apa yang ia tidak sukai.” Sahabat bertanya lagi : “Bagaimana kalau itu memang ada padanya ?” Nabi pun menjawab : “Jika memang perkara yang engkau sebutkan itu ada padanya, itulah yang namanya ghibah. Tetapi, jika yang engkau sebutkan itu tidak ada padanya maka sungguh engkau telah memfitnah.” (HR. Muslim).
Imam An Nawawi dalam kitab Al Adzkar menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebut seseorang dengan apa yang dia tidak sukai. Sama saja apakah (ghibah itu menyangkut) tubuhnya, agamanya, dunianya, jiwanya, fisiknya, akhlaknya, hartanya, anaknya, ortunya, istrinya, pembantunya, budaknya, sorbannya, pakaiannya, cara jalannya, gerakannya, senyumnya, muka masamnya, atau yang selainnya dari perkara yang menyangkut diri orang tersebut. Sama saja apakah engkau menyebut orang itu dengan ucapan bibirmu, tulisanmu, melalui tanda isyarat matamu, tanganmu, kepalamu, atau semisalnya. Jelas, khan ?
Karena dilarang maka tentu ada hukuman (punishment) bagi siapa saja yang melakukannya. Hukumannya apa ? Kita lihat hadits Rasulullah SAW aja yuk ! Anas r.a. berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Ketika aku dimi’rajkan, aku telah melihat suatu kaum yang berkuku tembaga digunakan untuk mencakar muka dan dada mereka sendiri, maka aku bertanya kepada Jibril : ‘Siapakah mereka itu ?’ Jawabnya : ‘Mereka yang makan daging orang dan mencela kehormatan orang (yakni ghibah).” (HR. Abu Dawud). Waduh, kalo gitu ngeri jua ya ?! Makanya, bagi yang udah tau larangan ghibah udah saatnya untuk ninggalan tuh aktivitas.
Ada yang Boleh
Tapi emang kada semua ghibah dilarang. Masih ada yang boleh tuh. Seperti apa ? Imam An Nawawi dalam kitab Riyadhush Sholihin menjelaskan tentang ghibah yang boleh itu. Pertama, ketika mengadukan penganiayaan seseorang di pengadilan. Di sini sobat boleh bilang bahwa si anu begini si anu begitu. Karena kalo kada diceritain kada tuntung masalahnya. Kedua, saat sobat minta tolong kepada seseorang untuk menasehati orang lain. Misalnya, sobat punya masalah dengan si A. Nah, supaya si A dinasehati oleh orang yang yang sobat anggap mampu menasehatinya maka sobat harus nyeritain perilaku en sifat-sifat si A ke orang itu, khan ? Ketiga, mengadukan seseorang untuk meminta fatwa atau saran. Ketika sobat punya masalah dengan si A en mau minta saran kepada seseorang untuk mencari jalan keluarnya. So, perlu diceritain khan duduk masalahnya supaya orang itu bisa memberikan fatwa atau saran kepada sobat. Hindun pernah mengadu kepada Rasulullah SAW tentang suaminya yang pelit. Keempat, mengingatkan orang agar terhindar dari kemudharatan. Kalo ada teman sobat yang punya urusan dengan seseorang yang sobat tau tentang keburukan orang itu, maka sobat boleh nyeritain keburukan orang itu kepada teman sobat tadi supaya dia bisa berhati-hati. Rasulullah SAW pernah memberikan peringatan kepada Fatimah binti Qais tentang orang yang hendak melamarnya : “Mu’awiyah seorang fakir, sedangkan Abu Jahm sukamemukul wanita.” (HR. Bukhari – Muslim). Boleh pula menyebutkan kelemahan perawi (periwayat) hadits untuk menentukan kadar periwayatannya. Boleh pula membeberkan kezaliman penguasa yang menjadi ‘raja tega’ dengan ‘memangsa’ rakyatnya sendiri. Kelima, terhadap orang yang sudah jelas melakukan kejahatan atau kemaksiatan. Misalnya, ada orang yang suka mabuk (tapi bukan mabuk jengkol atau mabuk kepayang ya). Dia doyan banar minum miras merk ‘kupiah miring’ eeh maksudnya ‘topi miring’. Bangga lagi. Maka, sobat boleh nyeritain kelakuannya ini karena dia sendiri udah terang-terangan berbuat maksiat. Kalau ada pembunuhan en pemerkosaan terus pelakunya ditayangkan di TV sebagai hukuman atas perbuatannya itu boleh. Keenam, untuk mengenal orang yang sudah populer dengan julukan itu en dia merasa enjoy aja (bukan iklan ya…) dengan panggilan itu, seperti Pak Bambang Cacing, Si Buta dari Gua Hantu, Arjo Soto, Niman bakso, de el el.
Nah, sekarang yang terpenting adalah pahami ajaran Islam dengan baik. Lantas, amalkan ! Berkenaan dengan gosip ini karena udah jelas keharamannya maka jangan digawi lagi. Buang kebiasaan ini jauh-jauh. Kalo masih belum bisa jua, patut sobat tanya pada diri : “Jangan-jangan saya juga Sumanto ?”
SGT SETUJU UTK KT RENUNGKAN