Posted by: h4fiz | 28 July 2009

18 # KETIKA ‘PEMIMPIN’ TIDUR

Ditulis oleh Gusti Orrin Prayudi Wardhana
(Bagian 18 dari proyek penulisan 90 artikel dalam 90 hari)

Jakarta (21/7/09) – Rasa penat benar-benar menghinggapi badan pada hari itu.  Maklum, saya baru sampai di penginapan – Asrama Haji Bekasi – sekitar pukul 01.00 tengah malam setelah menempuh perjalanan melintasi empat propinsi (Tanjung Kalimantan Selatan, Bandara Soekarno-Hatta Banten, Jakarta dan Bekasi Jawa Barat).  Pukul 4 sudah siap-siap untuk berangkat ke Istora Senayan untuk mengikuti Muktamar Ulama Nasional.  Hanya karena muktamarnya yang begitu menggugah semangat sehingga rasa kantuk hilang.  Jika seperti muktamar-muktamar lain, waaah…bisa ketiduran deh saya… Apalagi sehari penuh di Istora.Selepas maghrib kami pun bersiap-siap untuk kembali ke penginapan.  Ada dua buah mobil yang dicarter.  Bayangan untuk segera bisa beristirahat semakin menguat.  Bahkan di mobil pun saya sudah terkantuk-kantuk.  Mobil melaju dengan sangat kencang.  Khawatir juga sih… Masa di tengah kepadatan lalu lintas Jakarta sang supir melarikan mobilnya dengan sangat kencang bahkan terkesan ugal-ugalan.  Perut mulai mual.  Kepala pun pusing.  Tapi sang ‘pemimpin’ – saya tak tahu apakah beliau memang diangkat sebagai pemimpin tapi kebetulan beliau duduk di depan – bisa tidur dengan nyenyak.  Heran…

Saya hanya bisa menundukkan kepala.  Rasa khawatir dengan ugal-ugalannya supir, mual, pusing, lelah bercampur jadi satu.  Entah jadi rasa apa ?  Perjalanan terasa begitu lama.  Ketika saya terbangun, terlihat tulisan besar TANGERANG.  Lho kok ke Tangerang ?  Bukankah tujuannya adalah Bekasi ?  Merasa salah arah sang supir pun berbalik.  Teruuus… perjalanan semakin panjang.  Saya kembali hanya bisa menundukkan kepala sambil terus berdo’a semoga Allah SWT melindungi perjalanan ini.  Sampai suatu saat saya terbangun dan melihat kiri-kanan jalan tol yang penuh pohon akasia.  Lho… rasanya ini jalan tol menuju ke Bogor.  Ternyata benar.  Bahkan mobil satunya sudah sampai ke Bogor.  Supir yang mulanya tidak mau bertanya akhirnya bertanya.  Saat itulah sang ‘pemimpin’ bangun…

Ternyata sang supir keder juga.  Bahkan dia setengah ketakutan mengatakan : “bagaimana nanti saya pulang ?” Waduh…saya fikir tadi supirnya bermental preman.  Habis ugal-ugalan dan tidak mau ditegur sih.  Eeeh ternyata rocker berhati dangdut juga.  Akhirnya sambil menenangkan kekalutan kami turun dari mobil dan minum minuman dingin dulu.  Lumayanlah…sensasi dingin mendinginkan fikiran.  Sambil bertanya-tanya dengan ‘orang-orang malam’ di seputar warung, sang ‘pemimpin’ yang memang lama malang-melintang di rimba Jakarta menjadi faham rute perjalanan.  Memang benar pepatah orang dulu : “Malu bertanya sesat di jalan”.  Setelah semua siap perjalanan pun dilanjutkan.

Dengan dipandu sang ‘pemimpin’ perjalanan pun menjadi lancar.  Tidak terlalu lama untuk sampai ke lokasi tujuan walaupun jam sudah menunjukkan pukul 1 tengah malam.  Semua hanya bisa tertawa dalam hati.  Saya pun ketika ingat kejadian ini selalu saja tertawa.  Perjalanan gratis di waktu malam dari Jakarta – Tangerang – Bogor – Bekasi.

Wajar jika Umar bin Khaththab yang baru sejenak merebahkan diri di bawah rindangnya pepohonan sementara keringatnya belumlah kering diingatkan oleh anaknya Abdullah bin Umar bagaimana jika ada rakyat yang kesusahan, kelaparan, ingin menyelesaikan hajatnya, dan lain-lain sementara sang pemimpin sedang tidur ?  Wajar ketika sang pemimpin tidur banyak urusan umat yang tidak bisa dipelihara.  Ketika pemimpin tidur banyak kemaslahatan umat yang tidak bisa dijaga.  Ketika pemimpin tidur banyak kemaksiatan yang tidak bisa dicegah.  Banyak lagi… banyak lagi… Itu baru ketika sang pemimpin tidur.  Apatah lagi jika tidak ada pemimpin.  Waaah…bakal lebih banyak lagi yang tidak terurus.

Maka dari itu, bangunlah wahai pemimpin !  Bangunnya pemimpin akan membuat umat terpelihara.  Bangunnya pemimpin akan membuat umat terbimbing.  Bangunnya pemimpin akan membuat umat kembali semangat untuk meraih tujuannya.

# Ustadz dan kawan-kawan semua : “pinjam ceritanya, ya…”

# Kepada kawan-kawanku yang diberi amanah kepemimpinan, bangunlah !  Bawalah ‘umatmu’ menuju jalan kemuliaan.  Jika engkau tidur mereka akan tersesat, bukan sekedar ke Tangerang atau ke Bogor tapi bisa jadi ke neraka.  Na’udzu biLlah min dzalik !


Responses

  1. Thanks Ya Allah Kau telah anugerahkan kepada hamba, sahabat yang yang senantiasa “menyemprotku” dengan kata-kata bijaknya. Ya Allah berikan pada sahabat hamba itu, kesehatan, ketabahan dalam stiap langkahnya, stiap desah nafasnya, kabulkan stiap hajatnya, stiap inginnya. Amien


Leave a response

Your response:

Categories