Ditulis oleh Gusti Orrin Prayudi Wardhana
(Bagian 19 dari proyek penulisan 90 artikel dalam 90 hari)
Al Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur dalam tempo 23 tahun. Kadangkala beriringan, kadang ada jarak waktu. Tetapi yang pasti Al Qur’an turun secara bertahap, tidak sekaligus. Mengapa demikian ? Karena ada hikmah syar’iyyah (hikmah syar’iyyah adalah hikmah yang disebutkan di dalam nash. Lebih jelas lihat Atha’ bin Khalil, Ushul Fiqh : 146) yang disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya :
“Berkatalah orang-orang kafir : ‘Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja ? Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya.” (QS. Al Furqon : 32)
Di ayat lain Allah SWT berfirman :
“Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacanya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al Isra : 106) (Muhammad Husain Abdullah, Dirasat fi al Fikri al Islam : 19)
Demikian pula, pembahasan tentang Al Qur’an merupakan hal yang sangat penting dalam perkara aqidah (keimanan). Betapa tidak ? Karena Al Qur’an merupakan Kalamullah yang menjadi mu’jizat bagi pembawanya sekaligus sebagai bukti kerasulannya.
Keimanan terhadap Al Qur’an juga menjadi salah satu rukun iman. Di mana tidak sah keimanan seseorang jika dia tidak beriman kepada Al Qur’an. Hanya saja, kadang terbersit dalam fikiran : “Benarkah Al Qur’an itu Kalamullah ?”
Sungguh, Al Qur’an adalah Kalamullah !
Secara ‘aqli (berdasarkan dalil akal), kepastian Al Qur’an adalah Kalamullah dapat dibuktikan. Bagaimana bisa ?
Taqiyuddin an Nabhani dalam kitab Nizhom al Islam hal….. membahas asal Al Qur’an tidak akan lepas dari 3 (tiga) alternatif kemungkinan jawaban ini, yakni :
1. Berasal dari orang Arab.
2. Berasal dari Muhammad SAW.
3. Berasal dari sisi Allah SWT.
Tidak ada jawaban lain ! Mengapa ? Karena, fakta menunjukkan secara pasti bahwa Al Qur’an berbahasa arab, dibawa oleh Muhammad SAW, dan diakui sebagai Kalamullah.
Kemungkinan pertama jelas merupakan kemungkinan yang bathil dan tidak dapat diterima. Mengapa demikian ?
Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa pada saat Al Qur’an diturunkan, penguasaan bangsa Arab terhadap bahasa Arab sangatlah tinggi. Di masa itulah banyak bermunculan syair-syair berkualitas tinggi secara bahasa. Maka tak heran jika mereka dijuluki arbaab al lughah (tuhan-tuhan bahasa). Anehnya, ketika Al Qur’an menantang mereka untuk membuat yang semisal dengan Al Qur’an, mereka tidak mampu. Coba perhatikan bagaimana Al Qur’an memberikan tantangan kepada mereka !
Allah SWT berfirman :
“Katakanlah (Muhammad) : ‘(Kalau demikian) Buatlah sepuluh surah yang dibuat-buat yang menyamainya dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Hud : 13)
Demikian pula, mereka tak mampu memenuhi tantangan Allah SWT sebagaimana firman-Nya :
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad) maka buatlah satu surah (saja) yang semisal dengan Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al Baqarah : 23)
Itulah tantangan Al Qur’an kepada bangsa Arab. Dan mereka tidak mampu memenuhinya, baik sepuluh surah maupun satu surah ! Dan Nabi Muhammad SAW pun disuruh menantang bangsa Arab dengan tantangan yang lebih besar dan tegas lagi.
Firman Allah SWT :
“Katakanlah : ‘Jikalau manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sekalian yang lain.” (QS. Al Isra : 88)
Hanya saja, tak ada yang sanggup menjawab tantangan tersebut. Padahal, bahasa Al Qur’an adalah bahasa mereka (bahasa Arab). Namun, mereka tetap saja tidak mampu. Ini berarti bahwa Al Qur’an bukanlah berasal dari orang Arab bahkan manusia.
Ketidakmampuan orang-orang Arab dan manusia seluruhnya untuk mendatangkan yang semisal Al Qur’an disebabkan ketinggian sastra yang ada pada Al Qur’an itu sendiri. Sehingga, siapa pun yang mendengarnya pasti akan terpesona dan menjadi lemah untuk menandinginya.
Kemungkinan kedua, yakni Al Qur’an dibuat oleh Nabi Muhammad SAW pun tidak dapat diterima. Mengapa ? Karena, bukankah Nabi Muhammad SAW adalah orang Arab juga. Dan tantangan Al Qur’an untuk membuat semisalnya berlaku umum – untuk siapa saja. Jika seluruh bangsa Arab tidak mampu untuk membuatnya apalagi Nabi Muhammad SAW. Terlebih lagi, beliau adalah seorang yang umiy (tidak bisa membaca dan menulis). Sungguh mustahil jika beliau yang menulisnya.
Apalagi ketika kandungan Al Qur’an dikaji. Betapa banyak realitas-realitas ilmiah yang sudah diisyaratkan dalam Al Qur’an yang baru terbukti pada abad-abad ini seperti proses kejadian manusia.
Dalam Al Qur’an disebutkan :
“… Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” (QS. Az Zumar : 6)
Atau dalam ayat yang lain :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minun : 12 – 14)
Betapa rincinya ayat ini menjelaskan tentang proses pembentukan janin dalam rahim ibu, proses perubahan dari satu keadaan ke keadaan lain, dan saripati tanah sebagai bahan dasar diciptakannya manusia. Semua itu tidak diketahui kecuali pada zaman sekarang ini. Penelitian tentang kandungan dan kebidanan belum terjamah sama sekali pada saat Al Qur’an diturunkan. Dengan demikian, mungkinkah seorang Nabi yang umiy dapat membuatnya ?
Bukti lain, Nabi Muhammad SAW selain membacakan Al Qur’an juga mengucapkan hadits. Bukankah keduanya diucapkan melalui mulut yang sama ? Tetapi, mengapa hasilnya benar-benar berbeda ? Orang-orang yang mengerti gaya bahasa (balaghah) Arab pasti tahu bagaimana perbedaan gaya bahasa keduanya. Sungguh, keduanya sangatlah berbeda. Padahal, biasanya pada orang yang berbicara, pasti gaya bahasa dan susunan kata-katanya sama. Kalaupun bisa berbeda, tidak mungkin dalam waktu yang lama. Tapi ini, selama 23 tahun beliau selalu saja mengucapkan baik Al Qur’an maupun hadits dan sekali lagi keduanya sangat berbeda. Susunan bahasa Al Qur’an jauh lebih indah daripada hadits. Ini menunjukkan bahwa Al Qur’an bukanlah perkataan Nabi Muhammad SAW sendiri.
Ada satu tuduhan lagi, yakni Al Qur’an dijiplak Nabi Muhammad SAW dari seorang pemuda Nasrani bernama Jabr. Namun, hal ini dibantah sendiri oleh Al Qur’an :
“Dan sesungguhnya Kami mengetahui mereka berkata bahwasanya Al Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal, bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya adalah bahasa ‘ajami (nono Arab) sedangkan Al Qur’an itu dalam bahasa Arab yang jelas.” (QS. An Nahl : 103)
Semua ini membuktikan bahwa kemungkinan kedua bahwa Al Qur’an adalah buatan Nabi Muhammad SAW juga batil.
Dengan demikian, hanya ada satu kemungkinan, yakni Al Qur’an adalah Kalamullah yang suci dari campur tangan manusia. Tidak ada penambahan, juga tidak ada pengurangan sedikit pun. Coba simak pernyataan dari seorang tokoh sastrawan Arab zaman dulu, yakni Walid bin Mughirah :
“Aku adalah orang yang paling tahu tentang syair Arab. Tak ada yang lebih pandai tentang hal itu daripada aku. Sungguh apa yang dibaca Muhammad itu bukanlah ucapan manusia, tak ada yang lebih tinggi darinya.” (Taqiyuddin an Nabhani, al Syakhshiyyah al Islamiyah jilid I : 148)
Kesimpulannya, secara aqli Al Qur’an itu merupakan Kalamullah dan mustahil berasal dari selain-Nya.
Mu’jizat Al Qur’an
Inilah Al Qur’an yang menjadi mu’jizat terpenting Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, kajian mengenai kemu’jizatan Al Qur’an merupakan kajian yang sangat penting. Sebab, kemu’jizatan Al Qur’an adalah bukti kenabian Muhammad SAW semenjak turunnya Al Qur’an sampai hari kiamat nanti (Imam Ibnu Hazm al Andalusi, Ilmu al Kalam inda Madzhab Ahlu as Sunnah wa al Jama’ah : 27)
Tapi, bukankah mu’jizat Nabi Muhammad SAW tidak hanya Al Qur’an ? Itu benar ! Nabi Muhammad SAW memiliki banyak mu’jizat, seperti terbelahnya bulan di Makkah, memancarnya air dari celah jari beliau, turun hujan seketika setelah beliau berdo’a, bertasbihnya makanan yang dimakannya, menangisnya batang kurma, berkahnya makanan di Perang Tabuk dan Khandaq, pohon tunduk dengan perintahnya, dan lain-lain (Lebih lengkap lihat Abdul Malik Ali al Kulaib, ‘Alamat an Nubuwwah). Hanya saja, beliau tidak menggunakan semua mu’jizat di atas tadi untuk menantang orang-orang yang mengingkari kenabiannya. Dalam menghadapi mereka beliau hanya menggunakan Al Qur’an (Taqiyuddin an Nabhani, al Syakhshiyyah al Islamiyah jilid I : 146 – 147; Ali al Shabuni, al Tibyan fi ‘Ulum Al Qur’an : 92)
Dan Al Qur’an sangat ampuh untuk menaklukkan orang-orang yang ingkar terhadap kenabian beliau (Imam as Syafi’i, al Fiqh al Akbar pasal 40).
Membahas masalah mu’jizat, lantas sebenarnya apa sih arti mu’jizat itu ? Secara bahasa, mu’jizat berarti :
“Menetapkan adanya kelemahan (al ‘ajz) pada pihak lain” (Ali al Shabuni, al Tibyan fi ‘Ulum Al Qur’an : 93; Muhammad Husain Abdullah, Dirasat fi al Fikri al Islami : 21)
Sedangkan secara istilah, mu’jizat didefinsikan sebagai :
“Suatu kejadian yang nampak bertentangan dengan kebiasaan, yang muncul dari orang yang mendakwakan dirinya sebagai Nabi, disertai tantangan terhadap orang-orang yang ingkar (terhadap kenabiannya), dan orang-orang tersebut tidak mampu mendatangkan kejadian semisalnya” (Taqiyuddin an Nabhani, al Syakhshiyyah al Islamiyah jilid I : 116 – 117)
Muhammad Ali al Shabuni (al Tibyan fi ‘Ulum Al Qur’an : 101) merinci bahwa mu’jizat harus memenuhi 5 (lima) syarat sebagai berikut :
1. Sesuatu yang tidak akan mampu didatangkan kecuali oleh Allah SWT.
2. Sesuatu yang di luar kebiasaan dan menyalahi hukum alam.
3. Muncul dari orang yang mengaku sebagai Nabi.
4. Adanya tantangan kepada orang yang mengingkari pengakuan suatu kenabian untuk mendatangkan perkara yang semisal.
5. Tidak ada seorang pun yang mampu mendatangkan perkara semisal mu’jizat itu.
Bukti Iman terhadap Al Qur’an
Lantas, setelah seseorang mengimani bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah dan mu’jizat bagi Rasulullah SAW, cukupkah berhenti sampai di situ ? Tentu tidak, bukan ? Bagaimana pun sebuah keimanan memerlukan bukti. Demikian pula orang yang mengaku beriman kepada Al Qur’an diperlukan bukti untuk mengetahui sejauh mana keimanannya.
Orang yang beriman kepada Al Qur’an niscaya ia akan mengimani seluruh isi kandungan Al Qur’an tanpa membeda-bedakan dan memilih-milih ayat mana yang cocok untuk diambil dan ayat mana yang tidak patut diambil. Orang yang beriman kepada Al Qur’an akan tunduk kepada aturan-aturan yang termuat di dalamnya. Dan bukti yang lebih nyata adalah ditegakkannya hukum-hukum Al Qur’an tersebut dalam kehidupannya.
Al Qur’an telah memuat aturan-aturan bagi kehidupan manusia secara lengkap dan sempurna. Tak ada yang terlupakan. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT :
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku untukmu, dan telah Kuridhoi Islam menjadi agamamu.” (QS. Al Maidah : 3)
Muhammad Husain Abdullah (Dirasaat fi al Fikri al Islam) secara ringkas menyebutkan, aturan-aturan Allah SWT yang termuat dalam Al Qur’an mengandung aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta (dalam masalah aqidah dan ibadah), mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri (dalam masalah makanan-minuman, pakaian, dan akhlak), dan mengatur hubungan manusia dengan manusia lain dalam masalah mu’amalah ( seperti ekonomi, pendidikan, sosial, politik, pemerintahan) dan ‘uqubat (seperti hudud, jinayah, ta’zir, dan mukhalafah).
Seluruh aturan di atas wajib ditaati. Inilah bukti iman kepada Al Qur’an.
Allah SWT berfirman :
“Maka demi Rabb-mu, mereka pada hakikatnya tidak beriman sampai menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan …” (QS. An Nisa : 65)
Tidak dibenarkan pula untuk mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain dari isi Al Qur’an. Mengenai hal ini Allah SWT berfirman :
“Apakah kalian beriman kepada sebagian isi kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain ? Tidak ada balasan bagi yang demikian itu kecuali di dalam kehidupan dunia mendapat kehinaan dan di akhirat kelak dikembalikan ke azab yang pedih.” (QS. ……….
Orang yang benar-benar beriman kepada Al Qur’an akan selalu meyakini seluruh isi Al Qur’an, berupaya mengamalkannya, dan terus-menerus memperjuangkan ketegakannya di muka bumi.
Mendapat Petunjuk dari Al Qur’an
Agar petunjuk dapat diperoleh dari Al Qur’an maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Membaca Al Qur’an
Bacalah Al Qur’an ! Karena, di dalamnya terdapat petunjuk. Bagaimana mungkin kita bisa mendapat petunjuk jika kitab yang berisi petunjuk tersebut tidak pernah dibaca ?! Analoginya, bisakah kita melakukan praktikum kimia, fisika, atau biologi dengan benar dan sesuai prosedur laboratorium jika buku panduan praktikumnya tidak dibaca ? Tentu tidak ! Kalaupun kita bisa melakukan kegiatan praktikum maka pasti kita melakukannya secara sembarangan dan itu bisa mengakibatkan bahaya. Jangan-jangan maunya bikin urea malahan jadi TNT yang bisa meledak. Demikian pula dengan Al Qur’an. Bagaimana kita bisa menjalani praktek kehidupan ini dengan baik dan benar jika kitab panduan kehidupannya kita biarkan tak terbaca ? Tentu hidup ini akan dijalani dengan amburadul. Maka, bacalah Al Qur’an ! Apalagi, Rasulullah SAW sering memerintahkannya.
Rasulullah SAW bersabda :
“Bacalah Al Qur’an karena sesungguhnya Al Qur’an itu nanti pada hari kiamat akan datang memberi syafa’at kepada orang yang membacanya.” (HR. Muslim)
Bahkan, dalam hadits lain disebutkan :
“Orang yang membaca Al Qur’an dan ia mahir maka nanti akan bersama-sama dengan para malaikat yang mulia lagi taat. Orang yang membaca Al Qur’an dan ia merasa susah dalam membacanya tetapi ia selalu berusaha maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Balasannya pun akan berlipat ganda. Sabda Rasulullah SAW :
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur’an) maka ia mendapat satu kebaikan. Setiap kebaikan itu dubalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Turmudzi)
Maka, bacalah Al Qur’an ! Tidak membaca, rugi dong !
2. Memahami Al Qur’an
Allah SWT menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Supaya Al Qur’an dapat menjadi petunjuk, tidak bisa hanya sekedar dibaca. Yang lebih penting lagi adalah memahaminya. Membacanya mendapat pahala, memahaminya adalah satu kewajiban lain. Bagaimana mungkin seseorang dapat menjadikan Al Qur’an sebagai buku panduan kehidupan tanpa memahaminya ? Tentu sulit !
Pernahkah kalian memperhatikan seekor burung beo yang bisa bicara : “roti … roti…” ? Semakin pandai burung tersebut bicara semakin mahal harganya. Padahal, burung beo itu tidaklah mengerti apa yang dia ucapkan. Ketika burung beo itu berteriak : “roti … roti …” dan kemudian diberi roti tentu dia tidaklah memakannya bahkan mungkin dicuekin saja.
Mengapa demikian? Sederhana saja, karena si burung beo tidak paham apa yang diucapkannya.
Demikian pula seseorang yang sangat fasih membaca dan melantunkan Al Qur’an tetapi tidak memahami apa yang dibacanya tak ubahnya seperti burung beo tadi. Sekalipun membaca Al Qur’an tetaplah berpahala. Hanya saja, belum mencapai tujuan dari diturunkannya Al Qur’an, yakni sebagai pedoman kehidupan. Maka, banyak orang yang demikian bagusnya membaca misalnya :
“Dan katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menundukkan pandangannya … “ (QS. An Nur : 30)
“Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman hendaklah mereka menundukkan pandangannya …” (QS. An Nur : 31)
tetapi matanya tetap jelalatan kesana-kemari begitu melihat wajah tampan dan cantik.
Mereka sangat khusyu’ ketika membaca QS. Al Ahzab : 59 (tentang jilbab) dan QS. An Nur : 31 (tentang khimar/kerudung) tetapi mereka tidak mengenakan pakaian penutup aurat tersebut.
Mereka begitu takjub sewaktu membaca QS. Al Baqarah : 22 (tentang larangan membuat tandingan bagi Allah SWT) namun sangat disayangkan mereka menjadikan harta-hartanya, pemimpin-pemimpinnya, isteri dan anak-anaknya, dan banyak lagi yang lainnya sebagai tandingan bagi Allah SWT.
Mengapa hal demikian bisa terjadi ? Sekali lagi, jawabannya sederhana, yakni tidak memahami Al Qur’an.
Maka, pelajari dan pahamilah Al Qur’an ! Allah SWT sangat memerintahkan hal ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW :
“Bila suatu kaum berkumpul pada salah satu rumah-rumah Allah (masjid) dimana mereka membaca dan mempelajari Al Qur’an maka turunlah ketenangan di tengah-tengah mereka serta mereka selalu diliputi oleh rahmat, dikerumni oleh malaikat, dan disebut-sebut oleh Allah SWT di depan malaikat yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)
Di samping itu, Allah SWT pun mencela keras mereka yang tidak mempelajari Al Qur’an dalam firman-Nya :
“Maka apakah mereka tidak mengkaji Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci ?” (QS. Muhammad : 24)
Berarti, mempelajari dan memahami Al Qur’an sangatlah urgen. Karena, memahami Al Qur’an merupakan petunjuk arah menuju kebahagiaan hakiki dan abadi. Bagaimana, mau mempelajari dan memahami Al Qur’an ? Harus mau, dong !
3. Mengamalkan Al Qur’an
Mengamalkan Al Qur’an ! Itulah yang harus dilakukan setelah memahaminya. Tanpa pengamalan niscaya Al Qur’an tidak akan pernah ‘membumi’. Al Qur’an hanya akan menjadi ide khayalan yang tak pernah nyata dalam realitas. Dan ini tanggungjawab kita ! Al Qur’an wajib diamalkan.
Allah SWT berfirman :
“Dan apa saja yang diperintahkan oleh Rasul maka ambillah. Dan apa saja yang dilarangnya maka tinggalkanlah !” (QS. Al Hasyr : 7)
Orang yang memahami Al Qur’an tapi tidak mengamalkannya tak ubahnya seperti keledai yang memikul kitab-kitab pengetahuan. Sekalipun keledai itu banyak membawa kitab tetapi dia tetaplah keledai yang tidak akan pernah bisa mengamalkan apa yang dibawanya itu. Sindiran ini diungkapkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya :
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka Taurat kemudian mereka tidak memikulnya (tidak mengamalkan isinya) adalah seperti keledai yang memikul kitab-kitab yang tebal. Amat buruklah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim.” (QS. Al Jumu’ah : 5)
Tidakkah terguncang perasaan kita mendengar sindiran itu ? Marahkah kita jika ada orang yang menyebut kita keledai ? Dan Allah SWT memberi predikat keledai bagi orang-orang yang tidak mengamalkan isi kitab. Tidakkah kita sedih jika kita termasuk golongan orang itu ? Bila demikian, tidak ada jalan lain selain berusaha mengamalkan isi Al Qur’an. Lakukan sekarang, jangan tunda lagi !
4. Mengajarkan Al Qur’an
Pernahkah kalian memperhatikan atribut anak-anak TK Al Qur’an, seperti tasnya ? Di sana tertulis sebuah hadits dari Rasulullah SAW :
“Sebaik-baik kamu sekalian adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Muslim)
Mengajarkan Al Qur’an berarti mengajarkan cara membacanya (makhraj, tajwid, dan lain-lain), juga mengajarkan isi kandungannya.
Bukankah Al Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan Allah SWT sebagai petunjuk bagi manusia ? Tentu saja hal ini tidak dapat dicapai dengan sekedar membacanya. Sebaliknya, perlu memahami segala yang dikandungnya.
Hanya dengan membaca, memahami, mengamalkan, dan mengajarkan (menda’wahkan) Al Qur’an kita dapat merasakan betapa agung, luhur, dan tepatnya Al Qur’an.
Ayo, tunggu apa lagi ?