Buntok — 01 Juni 2011 lalu, tepat pukul 20:15 WIB, sebanyak 3 bus yang membawa 77 kafilah dari Buntok berangkat menuju Banjarmasin menghadiri Konferensi Rajab 1432 H, perhelatan akbar yang diorganisir oleh DPD I HTI Kalsel yang merupakan konferensi pembuka yang akan diikuti secara marathon di 27 wilayah lain di nusantara selama 1 bulan ke depan. Mereka adalah para Ulama’, Asatidz, tokoh masyarakat, pemuda dan pelajar yang selama ini berinteraksi dengan HT. Rasa penasaran dan ingin mengenal dan mengetahui perjuangan HT lebih dalam membuat para kafilah ini diliputi ghiroh yang luar biasa. Di perjalanan, terdengan perbincangan hangat seputar kewajiban mengkaji Islam, pengalaman berdakwah, urgensi khilafah, dll.
Bus melaju terus, hingga akhirnya tepat ketika azhan Shubuh berkumandang kami sampai di sebuah masjid yang cukup besar di Martapura, ibukota Kabupaten Banjar. Kota yang harus kami lewati sebelum sampai ke Banjarbaru, kemudian ke Banjarmasin. Subhanallah… di masjid itu telah berkumpul para kafilah dari daerah lain. Mereka tumpah ruah di ruang masjid, di serambi dan di halaman. Semua memiliki tujuan yang sama, menghadiri Konferensi Rajab. Mobil dari berbagai merk berjubel di arena parkir masjid itu hingga sampai di bahu jalan depan masjid penuh sesak. Setibanya di masjid kami langsung shalat shubuh berjamaah. Setelah itu kami langsung mengantre menunggu giliran mengambil konsumsi yang telah disiapkan panitia.
Perjalanan kami lanjutkan menuju Banjarmasin. Takjub, itulah perasaan yang ada dalam benak para kafilah dalam bus ketika menyaksikan kibaran al-liwa’ dan ar-rayah yang hampir tiada putus sepanjang jalan dari Banjarbaru menuju Banjarmasin. Parade bedug dan pekikan takbir di arena konferensi terdengar ketika kami mendekati stadion, seperti menyambut kedatangan kami, membuat kami tidak sabar untuk segera naik ke atas tribun. Sekitar pukul 07:30 WITA, kami tiba di muka Stadion 17 Mei Banjarmasin, setelah bus merayap cukup lama mendekati stadion, karena jalan mendekati stadion mengalami kemacetan. Setelah berkumpul semua kafilah, kami langsung memasuki stadion. Setelah kami, ternyata menyusul para kafilah dari berbagai penjuru Kalsel, secara beregu seperti tidak ada putusnya terus mengantre memasuki stadion, hingga tidak berapa lama hampir semua tribun pun terisi penuh oleh mereka yang memiliki satu visi, tekad, dan langkah untuk tegaknya Khilafah Islamiyah.
Konferensi pun dimulai. Lebih dari 8.000 peserta tak bisa beranjak. Mereka serius menyimak orasi pembicara dan testimoni ulama. Parade bedug, pekikan takbir dan seruan: “Khilafah! Khilafah! Khilafah!” berulang-ulang diteriakkan peserta disertai gelombang al-liwa’ dan ar-rayah. Allahuakbar…
Ketua DPD I HTI Kalsel, Ustadz Baihaki al-Munawar, S.Hut dalam orasinya terus membakar semangat peserta dan berharap agar konferensi ini mendorong umat untuk merekonstruksi masa depan peradaban Islam dalam sistem Khilafah. Pekikan takbir pun dijawab dengan penuh antusias oleh peserta disertai gelombang al-liwa’ dan ar-rayah.
Peserta menjadi lebih bersemangat lagi ketika Ustadz Fathiy Syamsuddin Ramadhan an-Nawiy, anggota Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI berbicara mengenai janji Allah akan tegaknya Khilafah dengan merujuk pada al-Qur’an surah an-Nur 55 dan beberapa hadits shahih. Menurut Beliau, “Khilafah Islam merupakan janji Allah yang paling agung bagi kaum Mukmin. Pasalnya, dengan tegaknya kekuasaan Islam ini (Khilafah Islam), agama Allah Swt bisa ditegakkan secara sempurna, dan keamanan kaum Muslim bisa diwujudkan secara nyata,” tegasnya.
Sebagai orasi penutup, Ustadz Harits Abu Ulya, Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI menyampaikan Seruan Hangat Hizbut Tahrir kepada Umat. Beliau menyampaikan sesungguhnya tegaknya Khilafah Islam merupakan kewajiban syariah atas seluruh kaum Muslim. Kewajiban ini bersifat mengikat; tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali melaksanakannya. Beliau memberikan contoh bagaimana para sahabat menunda pemakaman Rasulullah Saw karena mereka sedang berkumpul di Saqifah Bani Sa’i’dah untuk memilih dan mengangkat seorang Khalifah. “Ini menjadi salah satu bukti bahwa tegaknya Khilafah merupakan perkara paling utama dan harus diprioritaskan oleh kaum Muslim. Khilafah bahkan menjadi kebutuhan utama kaum Muslim. Pasalnya, penegakan Khilafah menyangkut perkara ‘hidup dan matinya’ Islam dan kaum Muslim”, tegasnya. Orasi pun diakhiri dengan pekikan takbir dan seruan: “Khilafah! Khilafah! Khilafah!” berulang-ulang yang diringi dengan parade bedug dan gelombang al-liwa’ dan ar-rayah.
KH. Abdul Wahab Syahrani, SAg, MM, Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud Putra Jarau Kab. Hulu Sungai Selatan dalam testimoni mengungkapkan mau kemana umat setelah mengetahui kewajiban meneggakkan syari’ah dan khilafah. Beliau menandaskan semoga Konfrensi Rajab menjadi pertemuan terakhir, karena setelah ini Khilafah yang mengikuti sunnah Nabi akan tegak kembali untuk kedua kalinya. Amin…
Demikianlah jalannya Konferensi Rajab yang diikuti dengan penuh antusias. Ada beberapa kisah haru yang dialami beberapa peserta konferensi dari Buntok;
Bapak Arsyad (sekitar 65 tahun) misalnya, seorang tokoh masyarakat, harus berangkat lebih dahulu dari Desa Jutuh di pinggir Sungai Barito menuju Buntok untuk berkumpul dengan peserta lain demi menghadiri konferensi ini.
Hal yang sama juga dialami oleh Abah Endang (sekitar 55 tahun), tokoh masyarakat yang harus berangkat lebih dahulu dari Desa Lembeng.
Ada juga penuturan yang mengharukan dari Mas Iqra Wahyudi, seorang wiraswasta, salah seorang peserta dari Buntok yang 1 hari sebelumnya berada di Martapura. Beliau menuturkan ketika hendak menuju Buntok mengalami kesulitan mencari armada transportasi, karena hampir semua armada telah diboking oleh Peserta Konferensi dari Martapura. Subhanallah…
Lain lagi dengan Bapak H. Yadi, seorang pengusaha kontraktor, Beliau mengatakan Konferensi Rajab ini adalah peristiwa akbar dan luar biasa yang pertama kali diikutinya. Beliau sempat menitikkan air mata ketika meneriakkan dan mendengar pekikan takbir yang berbeda dengan takbir yang biasa didengar dan diucapkan. “Seperti kondisi mau jihad” tutur Beliau.
Hal yang sama pula dialami peserta lain, mereka banyak yang menitikkan air mata di sela-sela pekikan takbir, gema bedug, gelombang al-liwa’ dan ar-rayah yang sangat atractive. Lebih-lebih ketika aksi teatrikal para pemuda Islam yang menggambarkan keadaan umat Islam tanpa Khilafah. Sebuah pesan penting yang disampaikan yaitu pentingnya penegakan khilafah dalam menyatukan seluruh potensi umat untuk meraih kemuliaan.
Begitu juga dengan H. Syarkawi Ismail (sekitar 57 tahun), seorang Ulama yang telah lama mengenal dan mendukung dakwah HT dan jarang absen dari event-event HT. dengan konferensi ini, semakin memantapkan dan meyakinkkan Beliau akan cita-cita HT yang ingin di raih bersama Umat. Wallahua’alam bi ash-shawab. [Shohib Abu Fikri]