Seringkali kita menyimak realitas ini, semangat berapi-api, semangat membara para manusia-manusia yang berusaha menunjukkan eksistensinya. Semangat yang muncul hanya pada momen-momen tertentu atau semangat yang hanya terlihat pada momen itu sedangkan ketika momennya lewat semangat luar biasa itupun lewat. Mari kita simak peristiwa tujubbelasan, lihatlah sekolah-sekolah menyanyikan lagu perjuangan pada apel paginya, kadang mereka diliburkan sehari untuk hadir diapel gabungan, pidato tentang kemerdekaan, gigihnya perlawanan pejuang dikumandangkan, di tiang rumah depan rumah merah putih berkibar . Bahkan gardu, kantor, sekolah dihias dengan berdera plastic merah putih, dsb. Bahkan lomba-lomba seperti panjat pinang, makan kerupuk, lari karung, termasuk pawai tujuhbelasan, semuanya berusaha untuk memaknai hari kemerdekaan dengan maksud, menelaladani perjuangan pahlawan dengan mematri arti perjuangan.
Sekarang cobalah lihat semangat perjuangan pada saat romadhan, mesjid-mushola sering dikunjungi jama’ah, makam-makam dibersihkan dan dikunjungi dengan lantunan do’a, ayat suci alqur’an merdu berkumandang dirumah-rumah dan corong mesjid-mushala, amalan-amalan mulai kembali dipelajari, diamalkan dan disyi’arkan, siang hari sebagian warung-warung tutup, sebagian sekolah melaksankan pesantren kilat, siaran TV-radio bernuansa islami, buka puasa menjadi agenda tahunan para alumni, sekolah, kantor, dsb. Silaturrami dan halal bi halalpun digiatkan selama syawal. Tapi ketika momen itu berlalu, maka semangat berjuang dengan ibadah-ibadah baik itupun ikut berlalu.
Dari dua contoh diatas, intinya saya ingin menggambarkan bahwa ada semangat keterputusan, atau semangat kerenggangan yang terjadi ketika momen pemacu semangat itu lewat. Padahal kita menghendaki semangat it uterus mengalir, lajunya semakin cepat, dayanya semakin kuat dan kitapun merasa nyaman dengan kondisi itu, tapi lagilagi seringkali terjadi sebaliknya.
Kawan, banyak contoh yang bisa disajikan dalam realitas ini, realitas tentang semangat momen-momenan dalam berjuang. Tentu kita tidak menghendaki sikap ini melekat pada diri kita, memang sebagai manusia kita memiliki semangat yang turun-naik, semangat itu dipengaruhi oleh keyakinan yang pasti yang juga sering turun-naik kadarnya, dalam Islam keyakinan ini di sebut Iman.
Sebuah perjuangan akan terus berputar seperti putaran roda, tentu perjuangan itu haruslah bergerak dalam sebuah tim, dimana masing-masing bagian memiliki peran dan posisi, ada yang mengkoordinir, mengatur, menegosiasi,menyuplai,menyemangati,melaksanakan,menyolusi dsb. Peran-peran seringkali diingini berjalan optimal tapi realitas sering berbicara sebaliknya. Tak jarang banyak pihak ditim itu terbiasa dengan budaya “mengandalkan”, tidak membiasakan diri dalam budaya “memandiri”. Budaya mengandalkan ini sering dikarenakan oleh dominannya peran pihak tertentu dalam step-step perjuangan, sebenarnya hal itu sah-sah saja asalkan diikuti dengan proses memandirikan yang tersusun sistematis yang didesain dalam sebuah pabrik penyehatan perjuangan. Pabrik ini harus mampu menyehatkan pikiran pejuang, menyehatkan gerak pejuang, dan menyehatkan kesehatan pejuang itu sendiri. Pabrik inilah yang sering dibahasakan dengan istilah pembinaan. Di Pabrik itulah jalan perjuangan ditentukan baik laju-lambatnya, bagus-tidaknya kualitas, hingga eksis-tidaknya tergantung pada pengelolaan pabrik itu, dan harus dipahami bahwa pabrik itu adalah milih seluruh pejuang yang tugas untuk memajukembangkannya adalah tugas bersama yang dalam hal ini diatur oleh rapi dan sehatnya tahap manajemen dan solidnya tim manajemen.
Lalu bagaimana, bila kita dalam kondisi berposisi pada tidak rapi dan sehat tahap manajemen dan tidak solidnya tim manajemen. Saran saya sehatkanlah pikiran anda, janganlah menghabiskan waktu anda dengan keluh dan gerutu, cobalah untuk memositif diri dengan piker dan langkah positif, ibaratnya kita ini bintang kecil dan para pembimbing dan yang kita teladani adalah bintang besar, maka jadilah kita bintang kecil yang istimewa, di saat bintang-bintang besar itu meredup cahayanya, usahakanlah agar kita terus mencahaya diri, setiap akan redup cahaya kita bergegaslah untuk menyalakannya kembali, ingatkanlah bintang-bintang besar itu dengan cahaya kecil kita, bila memang bintang-bintang besar itu memiliki niat baik dalam memancar cahaya maka mereka akan malu dan bergegas mengikuti, namun bila sebaliknya dan justru menjadi beban perjuangan maka menggantikan peran bintang-bintang besar itu disinggasananya adalah tugas yang teramat mulia dan harus menjadi pilihan yang dikerja. Singkat kata jadikanlah mabda yang menjadi penggerak perjuangan kita, jadikan ridhoNya menjadi motivasi yang melipat gandakan kuat-kuat kita, jadikan sikap lemah menjadi lemah mengikuti perjuangan kita, jadikan sikap malas menjadi malas menghambat perjuangan kita, jadikan sikap futur menjadi futur memadamkan semangat perjuangan kita, sungguh karna kemenangan itu telah dijanjikan dan jalannya semakin nyata menghampar mengindah menggembira jiwajiwa kita. Semoga perjuangan ini kita tapaki bukan dengan semangat momen-momenan apalagi semangat musiman, tapi dengan semangat perlawan yang dilandaskan pada Iman yang menjadi mabda perjuangan.
Ma’af bila kurang berkenan, tulisan ini menjadi salah satu cara yang saya tempuh menyemangati untuk diri.
Sipp… lah… moga ga moment-momenan lagi
amiin…
semoga menjadi penyemangan diri ini uey…